.topcolumn .widget{ }
"...WELCOME TO MAPALA GAPURA..."

Rabu, 08 April 2009

Kronologis Perjalanan di Sebuah Jalan yang Baru

Jumat, 20 Februari 2009 Akhirnya dengan segala kekurangan yang ada dalam segi apapun, saya berangkat dengan sebuah niat ingin belajar Divisi GOA dalam kegiatan Kursus Dasar Kursus Lanjutan (KDKL) GOA yang diadakan oleh Himpunan Kegiatan Speleologi ( HIKESPI ) bekerja sama dengan LCS dan Mapala WARIS UNSRI . Pukul 19.00 saya datang ke secretariat PADI untuk menunggu bis yang membawa peserta dari WARIS. Tapi bis yang ditunggu baru datang pukul 23.30 dan saya langsung berangkat bersama peserta lain dalam bis itu menuju lokasi KDKL, yaitu Goa Putri yang berada di desa Padang Bindu. Pukul 00.30 kami sampai di lokasi dan istirahat.

Sabtu, 21 Februari 2009 Pukul 05.00 kami bangun dan memindahkan perlengkapan yang kami bawa ke tenda peserta yang telah disediakan. Setelah itu kami sarapan nasi bungkus yang disediakan panitia. Sehabis makan kami melihat simulasi SRT ( Single Roop Technique) yang dilakukan oleh para Instruktur kegiatan KDKL ini. Peserta kegiatan ini ada 25 orang yang terdiri dari 3 orang dari luar Sumatra dan sisanya dari daerah Sumatra sendiri. Pukul 08.00 kami mendengarkan materi tentang kawasan karst dari Kades Padang Bindu dan dinas-dinas lain sekaligus membuka acara KDKL. Pukul 14.00 setelah istirahat dan makan siang diadakan latihan membuat simpul-simpul dan perkenalan alat SRT sekaligus latihan SRT di pohon. Pukul 17.00 peserta kumpul lagi di aula untuk makan malam dan dilanjutkan dengan materi Speleologi sampai pukul 00.00.

Minggu, 22 Februari 2009 Pukul 05.00 bangun dan langsung streaching yang dipimpin oleh salah satu instruktur, setelah selesai kami langsung sarapan. Setelah sarapan kami dibagi jadi 2 kelompok, satu kelompok simulasi goa vertical di goa silabe dan kelompok satunya pengenalan ornamen di goa putri. Goa silabe yang dijadikan lokasi simulasi SRT berkedalaman 20 m dan gelap didalamnya sehingga headlamp atau penerangan sangat penting. Di sana kami tinggal turun menggunakan alat SRT melalui jalur tali yang telah dipasang oleh instruktur. Satu-persatu peserta yang berjumlah sekitar 15 orang turun, setelah semuanya turun, kembali satu-persatu kami naik. Pukul 13.00 setelah semuanya naik, kami tim SRT kembali ke Camp untuk makan siang dan shalat dzuhur. Setelah itu tim SRT kami bergantian dengan tim pengenalan ornamen goa. Mereka latihan SRT dan kami memasuki goa putri untuk pengenalan ornamen goa. Di sana dijelaskan secara lengkap oleh instrukturnya dari pengertian karst, bagaimana pembentukan karst, bagaimana seharusnya pengelolaan kawasan karst sebagai ekowisata sampai nama-nama ornamen goa seperti stalagmit, stalagtit, pilar, gordyn, aven, dan seterusnya. Sampai di dalamnya kami turun ke pemandian putri dan menyusuri air di dalamnya yang ternyata menembus keluar goa di sebelah mulut goa putri. Pukul 17.00 kembali ke camp dan istirahat sampai pukul 19.00. Pukul 19.00 kami makan malam dan dilanjutkan penyampaian materi dasar goa oleh instruktur sampai pukul 24.00.

Senin, 23 Februari 2009 Seperti hari-hari kemarin pukul 05.00 kami bangun untuk streaching dan langsung sarapan. Setelah sarapan kami ujian Kursus Dasar Goa tentang semua materi dan praktek yang telah diberikan kemarin. Ujian ini terdiri dari ujian tertulis, tes simpul, mengingat nama-nama instalasi SRT dan SRT di pohon. Setelah selesai mengikuti test kami melihat demonstrasi atau simulasi self resque yang dilakukan oleh instruktur. Setelah itu kami istirahat dan bersih-bersih sebelum kemudian berkumpul lagi di aula pukul 19.00. Pukul 19.00 kami makan malam dan dilanjutkan materi Rigging sampai pukul 03.00 pagi.

Selasa, 24 Februari 2009 Pukul 07.00 kami bangun dan langsung streaching tanpa mandi atau apapun kecuali yang tentunya lebih awal bangun untuk shalat subuh. Setelah streaching kami langsung memakai seragam goa kami yaitu wearpack, sepatu boot dan helm. Setelah itu kami sarapan bersama. Sehabis sarapan kami dibagi menjadi empat kelompok, dua kelompok melakukan latihan pemetaan di goa silabe tapi masing-masing di tempat terpisah. Dua sisanya melakukan latihan rigging perorangan dan team masih di bagian goa silabe juga. Pukul 12.00 team pemetaan pulang ke basecamp untuk makan siang dan kemudian mengolah data yang tadi telah diambil. Sedangkan team rigging masih tetap rigging sampai menjelang maghrib. Pukul 19.30 setelah makan malam kami melakukan presentasi dan tanya jawab apa yang telah kami simulasikan tadi siang. Pukul 24.00 kami tidur.

Rabu, 25 Februari 2009 Pukul 05.00 seperti biasa kami sudah berkumpul di halaman untuk streaching dan berganti seragam goa. Hari ini bergantian, team yang kemarin pemetaan hari ini melakukan rigging dan sebaliknya. Pukul 19.00 kembali kami melakukan presentasi dan tanya jawab tapi malam ini acara presentasi tidak lagi berjalan seperti kemarin karena satu-persatu peserta tertidur kelelahan. Tapi ternyata setelah acara presentasi selesai peserta dibangunkan semua untuk mengikuti materi cave resque sampai pukul 24.00.

Kamis, 26 Februari 2009 Pukul 05.00 bangun, streaching, berganti seragam goa dan sarapan. Tidak disangka pagi ini kami mendapat musibah, sebuah berita duka mengabarkan bahwa ayahnya Fajar, salah satu peserta meninggal dunia dan Fajar telah pulang tadi malam. Pukul 07.30 masing-masing kelompok secara bergantian melakukan lagi simulasi rigging tim di goa vertical silabe, pemetaan sekaligus latihan water resque dan self resque di pohon. Tiga kegiatan itu diatur sedemikian rupa hingga semua kelompok bisa berlatih tanpa keluar dari agenda. Hanya saja, kelompok tiga dan empat baru selesai rigging tim pukul 22.00 malam sedangkan kelompok satu dan dua telah selesai. Sesampai di basecamp kelompok tiga dan empat segera bersih-bersih untuk kemudian bergabung di aula. Setelah semuanya berkumpul kami langsung saja mempersiapkan alat tulis untuk test tertulis kursus lanjutan sampai pukul 24.00.

Jumat, 27 Februari 2009 Pukul 2009 kami bangun, streaching, berganti seragam yang tidak lagi bersih dan sarapan. Setelah itu kami mulai test praktik kursus lanjutan yang terdiri dari test membuat simpul dengan mata tertutup, memasang instalasi SRT dengan mata tertutup, SRT di pohon dengan mata tertutup dan Self Resque. Semua test itu selesai pukul 14.00. Setelah makan siang kami latihan cave resque secara sekilas. Pukul 15.00 kami dipersilahkan istirahat karena rangkaian kegiatan KDKL Goa telah selesai. Pukul 19.00 kami makan kambing guling sekaligus penutupan secara resmi acara KDKL.

Sabtu, 28 Februari 2009 Kali ini kami bangun pukul 09.00. Setelah itu kami packing dan pulang meninggalkan Goa Putri.

Read more...

cilmbing



ROCK CLIMBING


I. PENDAHULUAN
Mendengar kata Rock Climbing (panjat tebing), kita seperti dikenalkan pada suatu jenis olahraga baru. Benarkah kita belum mengenalnya? Barangkali kita masih ingat masa kecil dulu, alangkah gembiranya kita bermain, memanjat tembok, pohon-pohon, atau batu-batu besar, di mana kita tidak memikirkan resiko jatuh dan terluka, yang ada adalah rasa gembira. Sebenarnya kegiatan Rock Climbing tidak jauh dari itu, cuma kali ini kita sudah memilih medan tertentu dengan memikirkan resikonya.

Pada dasarnya Rock Climbing adalah bagian dari Mountaineering (kegiatan mendaki gunung, suatu perjalanan petualangan ke tempat-tempat yang tinggi), hanya di sini kita menghadapi medan yang khusus. Dengan membedakan daerah atau medan yang dilalui, Mountaineering dapat dibagi menjadi : Hill Walking, Rock Climbing dan Ice/Snow Climbing. Hill Walking merupakan perjalanan biasa melewati serangkaian hutan dan perbukitan dengan berbekal pengetahuan peta/kompas dan survival. Kekuatan kaki menjadi faktor utama suksesnya suatu perjalanan. Untuk Rock Climbing, medan yang dihadapi berupa perbukitan atau tebing di mana sudah diperlukan bantuan tangan untuk menjaga keseimbangan tubuh atau untuk menambah ketinggian. Ice/Snow Climbing hampir sama seperti halnya dengan Rock Climbing, namun medan yang dihadapi adalah perbukitan atau tebing es/salju .

Kadang-kadang akan timbul pertanyaan pada kita, seperti ini : Kenapa sih naik gunung? George L. Mallory (pendaki Inggris) menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, Because it’s there.. Lalu pertanyaan lain, Apa yang kau dapatkan di sana ? Seorang pendaki akbar, Reinhold Messner berkata : The mountains tell you, quite ruthlessly, who you are, and what you are. Mountaineering is a game where you can’t cheat ..., more than that, what’s important is your determination cool nerves, and knowing how to make the right choice.

Olahraga seperti ini adalah nikmat, dan barangkali sedikit egois. Segala kenikmatan pada saat kita menyelesaikan sebuah medan sulit adalah milik kita sendiri, tidak ada sorak sorai, apalagi kalungan medali. Sebaliknya, adanya kecelakaan dalam suatu pendakian adalah karena kelalaian kita sendiri, kurang hati-hati dan kurang memperhitungkan kemampuan diri. Banyak pendaki yang melakukan turun tebing (rappeling / abseiling) dengan melompat dan sangat cepat, ini sangat berbahaya. Untuk kita, sebaiknya menganggap kegiatan panjat tebing sebagai hobi, seperti hobi-hobi lainnya. Sebagai gambaran bisa kita simak perkataan Walter Bonatti, seorang pendaki kawakan dari Italia, saat melakukakn pendakian solo pada dinding yang mengerikan di Swiss. Ketika ia sedang menghadapi kesulitan melewati overhang (dinding menggantung dengan kemiringan > 90 derajat), sebuah pesawat mengitarinya yang rupanya mencarinya. Kehadiran pesawat menekan kesendiriannya : “ Siapa yang mengatakan bahwa mereka melihatku ?, aku berfikir dan merasa bahwa pesawat tersebut adalah bagian dariku, yang kini meninggalkan dan merobek hatiku. Aku mulai sadar bahwa aku lebih suka jika terdapat kesunyian yang mutlak. Semua yang terjadi dalam waktu singkat tadi seakan-akan merupakan usaha akhir untuk menghubungkan diriku dengan kehidupan yang tidak mempunyai arti lagi bagiku. Pesawat itu berputar-putar kemudian meninggalkan diriku seperti mati.”

Akhirnya, marilah kita mencoba lebih mengenal panjat tebing yang nikmat itu. Pada tulisan ini, pembicaraan hanya terbatas pada pembahasan panjat tebing, dengan tidak mengecilkan yang lain, Hill Walking dan Ice/Snow Climbing.

II. KLASIFIKASI PANJAT TEBING
Dalam panjat tebing terdapat 2 klasifikasi pembedaan, yaitu :
1. Pembedaan yang pertama adalah antara Free Climbing dengan Artificial Climbing.Free Climbing adalah suatu tipe pemanjatan di mana si pemanjat menambah ketinggian dengan menggunakan kemampuan dirinya sendiri, tidak dengan bantuan alat. Dalam Free Climbing, alat digunakan hanya sebatas pengaman, bukan sebagai alat untuk menambah ketinggian. Bedanya dengan Artificial Climbing, di mana alat selain digunakan sebagai pengaman, juga berfungsi untuk menambah ketinggian.

2. Pembedaan yang kedua adalah antara Sport Climbing dengan Adventure Climbing.Sport Climbing adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Dalam Sport Climbing, pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Sedangkan pada Adventure Climbing, yang ditekankan adalah lebih pada nilai petualangannya.

III. KELAS DAN GRADE DALAM PANJAT TEBING
Kelas
Seperti dalam olahraga lainnya, seseorang atlit dapat diukur kemampuannya pada suatu tingkat pertandingan. Pemain catur dengan elorating dibawah 2000 tidak akan dapat mengikuti turnamen tingkat Gand Master. Dalam panjat tebing terdapat klasifikasi tebing berdasarkan tingkat kesulitannya, dengan demikian kita dapat mengukur sampai di mana kemampuan kita. Kelas yang dibuat oleh Sierra Club adalah :
Kelas 1:Cross Country Hiking
Perjalanan biasa tanpa membutuhkan bantuan tangan untuk mendaki / menambah ketinggian.
Kelas 2:Scrambling
Sedikit dengan bantuan tangan, tanpa tali.
Kelas 3:Easy Climbing
Secara scrambling dengan bantuan , dasar teknik mendaki (climbing) sangat membantu, untuk pendaki yang kurang pengalaman dapat menggunakan tali.
Kelas 4:Rope Climbing with belaying
Belay (pengaman) dipasang pada anchor (titik tambat) alamiah atau buatan,berfungsi sebagai pengaman.
Kelas 5
Kelas ini dibagi menjadi 11 tingkatan (5.1 sampai 5.14), di mana semakin tinggi angka di belakang angka 5, berarti semakin tinggi tingkat kesulitan tebing. Pada kelas ini, runners dipakai sebagai pengaman.
Kelas A
Untuk menambah ketinggian, seseorang pendaki harus menggunakan alat. Dibagi menjadi lima tingkatan (A1 sampai A5). Contoh : Pada tebing kelas 5.4 tidak dapat dilewati tanpa bantuan alat A2, tingkat kesulitan tebing menjadi 5.4 - A2.

Grade
Merupakan ukuran banyaknya teknik pendakian yang diperlukan. Faktor rute yang sulit dan cuaca buruk dapat menambah bobot grade menjadi lebih tinggi. Sebagai contoh, tebing kelas 5.7 yang rendah dan dekat dengan jalan raya, mungkin akan mempunyai grade I (satu). Pembagian grade adalah sebagai berikut.
IV. ETIKA DAN GAYA DALAM PANJAT TEBING

A. ETIKA

Menurut KUBI, etika berarti nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Pelanggaran terhadap suatu nilai biasanya tak akan mendapatkan sanksi yang legal. Dan antara suatu masyarakat dengan masyarakat lain sering kali mempunyai etika yang berbeda terhadap suatu hal yang sama.

Di antara masyarakat pemanjat, juga terdapat etika yang kerap berbenturan. Suatu contoh adalah ketika Ron Kauk membuat suatu jalur dengan teknik rap bolting di kawasan Taman Nasional Lembah Yosemite, Amerika Serikat. Kawasan pemanjatan ini terkenal sebagai kawasan pemanjat tradisional dan mempunyai peraturan konservasi alam yang ketat. Pembuatan jalur dengan cara demikian tak dapat dibenarkan oleh para pemanjat tradisional di kawasan ini, di antaranya adalah John Bachar. Bachar menganggap bahwa semua jalur yang ada di Yosemite harus dibuat dengan cara tradisional, yaitu sambil memanjat (leading). Kasus ini menjadi besar karena sampai menimbulkan perkelahian di antara kedua pemanjat yang berlainan aliran itu. Kasus tersebut menggambarkan bagaimana etika sering menimbulkan perdebatan. Kasus ini hanya salah satu dari berbagai masalah yang kerap timbul di sekitar pembuatan jalur.

Sebetulnya ruang lingkup etika dalam panjat tebing terdiri dari :
Masalah teknik pembuatan jalur
Secara umum ada dua aliran teknik pembuatan jalur yang dewasa ini banyak dianut, yaitu aliran tradisional dan aliran modern. Pembuatan jalur secara tradisional pada prinsipnya adalah membuat jalur sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualangan karena lintasan yang akan dilewati sama sekali baru, tanpa pengaman, tanpa dicoba terlebih dahulu. Teknik tradisional ini berkembang di Eropa sampai tahun 70-an, namun kini masih dianut oleh pemanjat tradisional Amerika. Sementara itu pembuatan jalur secara modern terdiri dari dua cara yang banyak digunakan. Cara pertama adalah dengan teknik tali tetap (fix rope technique). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat dilakukan dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting pada fix rope yang telah terpasang terlebih dahulu. Cara kedua mirip dengan cara pertama, tetapi tidak dengan tali tetap melainkan menggunakan top rope. Kelebihan cara ini, pembuat jalur dapat membuat perencanaan arah jalur dan penempatan pengaman lebih presisi karena gerakan pemanjatan dapat diketahui terlebih dahulu.
Masalah penamaan jalur
Siapa yang berhak memberi nama pada suatu jalur, si pembuat jalur atau pemanjat pertama yang menuntaskan jalur, juga tidak ada aturannya. Biasanya si pembuat jalur bersikeras untuk menjadi orang pertama yang menuntaskan jalur tersebut. Kadang-kadang mencapai waktu berbulan-bulan untuk membuat sekaligus menuntaskan suatu jalur baru. Tapi ada kalanya jalur yang dibuat terlalu sulit dan jauh di luar kemampuan si pembuat jalur itu. Di Indonesia biasanya nama jalur merupakan suatu kesepakatan saja dari seorang atau sekelompok pembuat jalur.
Masalah keaslian jalur
Masalah keaslian jalur biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah pengaman tetap yang ada dalam jalur tersebut. Suatu jalur, misalnya dengan jumlah bolt sebanyak 7 buah akan tetap 7 dan tak boleh bertambah atau berkurang lagi karena dalam kode etiknya, ini sudah resmi menjadi sebuah jalur. Yang menjadi masalah, apakah suatu jalur dengan jarak antar bolt yang sangat jauh tak dapat ditambah dalam batas-batas yang wajar? Juga sebaliknya, apakah jalur yang jarak antar boltnya terlalu rapat tak dapat dikurangi? Tradisi di Yosemite, bila seseorang berhasil memanjat suatu jalur yang cukup mudah, katakanlah setinggi 15 meter, dengan hanya 2 bolt saja, hal ini berlaku bagi semua pemanjat yang akan menggunakan jalur tersebut tanpa penambahan bolt lagi. Tradisi ini memang mendapat protes dari banyak pemanjat pemula yang merasa sanggup menuntaskan jalur tersebut, namun tak mau mengambil resiko dengan hanya menggunakan 2 bolt saja. Contoh lain adalah jika seseorang pemanjat merasa suatu jalur dengan jumlah bolt yang wajar terlalu mudah, berhakkah ia mengurangi jumlah bolt yang ada? Sampai sejauh mana kita bisa menghargai prinsip pemanjatan pertama? (sampai yang paling ekstrim)
Pengubahan bentuk permukaan tebing
Untuk masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa hal itu haram untuk dilakukan, baik itu menambah kesulitan maupun membuat jalur tersebut menjadi lebih mudah. Walaupun begitu sebagian kecil dari seluruh kawasan pemanjatan yang ada (hanya sebagian kecil) yang menerima hal ini, namun hanya pada permukaan yang tanpa cacat sama sekali (blank/no holds) agar kesinambungan jalur sebelum dan sesudahnya dapat terjaga.
B. GAYA
Pengertian gaya didalam panjat tebing menyangkut metode dan peralatan serta derajat petualangan dalam suatu pendakian. Petualangan berarti tingkat ketidakpastian hasil yang akan dicapai.

Gaya harus sesuai dengan pendakian. Gaya yang berlebihan untuk tebing yang kecil, sebaik apapun gaya tersebut akhirnya menjadi gaya yang buruk. Mendaki secara alamiah dengan bantuan teknis terbatas adalah gaya yang baik. Kita harus bekerja sama denga tebing, jangan memaksanya. Kita dapat menggunakan point-point alamiah seperti batu, tanduk (horn), pohon, atau pada batu yang terjepit didalam celah (Chockstone). Akhirnya kita sampai pada pendakian sendiri, tanpa menggunakan tali, Maksudnya adalah menyesuaikan gaya dengan pendakian dan kemampuan diri. Gaya yang baik adalah persesuaian yang sempurna - penapakan dari dua sisi yang baik antara ambisi dan kemampuan.

Tidak ada pendakian yang sama. Standar yang baik selalu dapat diterapkan dan juga memungkinkan penyelesaian menjadi kepribadian masing-masing rute. Itulah prinsip pendakian pertama kita tadi. Prinsip tersebut dapat membimbing kita dalam masalah gaya dan etika. Kita telah memiliki standar minimum yang telah siap dan tersedia untuk dijadikan sasaran. Penerimaan terhadap prinsip ini memungkinkan kita untuk meniadakan pertentangan pendapat tentang gaya umum. Keuntungan lain adalah gaya dari pendakian pertama adalah gaya yang layak, dan memberikan keuntungan psikologis kepada pendaki-pendaki berikutnya bahwa rute tersebut, paling tidak, pernah dicoba. Dengan menghargai orang-orang yang menyelesaikannya, dan memperlihatkan bahwa kita paham akan nilainya, serta menganggap pendakian mereka sebagai suatu hasil karya, maka pendakian meraka bukanlah sesuatu yang harus dikalahkan.

Dalam bukunya How to Rock Climb: Face Climbing, John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit mengenai beberapa gaya yang ada, di antaranya adalah :
Onsight Free Solo
Istilah onsight berarti memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat dijalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Sedangkan solo berarti tanpa tali. Jadi onsight free solo berarti pemanjatan tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tapi pernah mencoba walaupun belum hapal benar jalur tersebut.
Worked Solo
Pemanjatan tanpa tali dengan sebelumnya pernah mencoba berkali-kali sampai benar-benar hapal mati seluruh bentuk permukaan tebing.

Memanjat suatu jalur tanpa pernah mencobanya, melihat pemanjat lain dijalur yang sama, juga tak pernah mendapat informasi apa-apa. Memanjat dengan menggunakan tali sebagai perintis jalur (leader) dan memasangpengaman (running belay). Pemanjat juga tidak sekalipun jatuh dan tidak mengambil nafas/istirahat disepanjang jalur.
Beta Flash
Pemanjatan tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat dijalur tersebut, namun telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pemanjat kemudian memanjatnya tanpa jatuh dan tanpa istirahat sepanjang jalur.
Déjà vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik , ia kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur tersebut dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh dan memanjat sambil memasang pengaman sebagai perintis jalur.
Pink Point
Sama dengan red point hanya semua pengaman telah dipasang pada tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam untuk kategori ini, misalnya seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir ia jatuh (hangdogging). Pemanjatan dengan top rope juga termasuk dalam kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan bor pertama dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi yang masuk dalam kategori ini. Seluruh kategori ini menceritakan berbagai taktik, strategi, atau trik untuk mempelajari sekaligus mencoba menuntaskan suatu jalur.

Setelah begitu banyak melihat gaya pemanjat dalam menuntaskan jalur,kita dapat dapat membandingkan mana yang lebih sulit. Dengan begitu dapat pula dibandingkan perbedaan kemampuan seorang pemanjat.

C. PERTIMBANGAN LAIN
1. Gunakan Chock dan Runners (titik pengaman) Alam. Pendakian tebing adalah sesuatu kesatuan yang harus ditangani secara hati-hati. Yang harus diperhatikan adalah masalah penggunaan runners alam dan chockstone buatan, karena alat tersebut membiarkan tebing tetap utuh.

Pengunaan piton (paku tebing) dalam suatu pendakian masih menimbulkan cacat pada tebing. Kerusakan yang ditimbulkannya adalah karena :
a. Mempersulit atau mempermudah rute dengan merubah sifatnya.
b. Menimbulkan noda-noda goresan yang tidak sedap dipandang.
c. Dapat melepas belahan batu besar atau serpihan-serpihan batu.

Jadi walaupun dalam kasus-kasus dimana pendakian pertama menggunakan piton, kita harus berusaha memperkecil penggunaan piton karena sifatnya yang merusak

2. Sampah. Jika kita membawa kaleng makan dalam suatu pendakian, injak kaleng tesebut dan bawalah keatas. Lebih baik lagi jika membawa makanan yang tidak dalam kaleng. Kulit jeruk sebaiknya disimpan kembali karena tidak dimakan oleh binatang dan sangat lambat pembusukannya.
V. TEKNIK PANJAT TEBING
A. STRUKTUR GUNUNG
Dengan mengetahui struktur suatu gunung, akan lebih mudah bagi kita untuk merencanakan sebuah rute yang akan didaki. Merencanakan tempat untuk berhenti istirahat, dan sebagainya. Faktor lain yang memiliki kaitan erat adalah musim dan cuaca terutama arah angin. Akan lebih sulit apabila kita mendaki dinding selatan pada saat angin bertiup kencang dari arah selatan daripada kalau angin bertiup dari utara.

Sebelum seseorang memanjat tebing, seperti juga pada Hill Walking, maka diperlukan pengetahuan rute yang akan diambil. Di negara-negara maju disediakan buku petunjuk rute suatu tebing dengan tingkat kesulitannya. Pendaki dapat memilih rute yang akan didaki dengan memperhitungkan kemampuannya.
B. PERALATAN PANJAT TEBING
1. Tali
Fungsi utama tali adalah untuk melindungi pendaki dari kemungkinan jatuh sampai menyentuh tanah (freefall). Berbagai jenis tali yang digunakan dalam Panjat Tebing adalah :
a. Tali serat alam
Jenis tali ini sudah jarang digunakan. Kekuatan tali ini sangat rendah dan mudah terburai. Tidak memiliki kelenturan, sehingga membahayakan pendaki.
b. Hawser Laid
Tali sintetis, plastik, yang dijalin seperti tali serat alam. Masih sering digunakan terutama untuk berlatih turun tebing. Tali ini relatif lebih kuat dibanding tali serat alam dan tidak berserabut. Kelemahannya adalah kurang tahan terhadap zat kimia, sulit dibuat simpul dan mempunyai kelenturan rendah serta berat.

Tali yang paling banyak digunakan saat ini, terdiri dari lapisan luar dan dalam. Yang terkenal adalah buatan Edelrid, Beal dan Mammut. Ukuran tali yang umum dipakai bergaris tengah 11 mm, panjang 45 m. Untuk pendakian yang mudah, snow climbing, atau untuk menaikkan barang dipakai yang berdiameter 9 mm atau 7 mm. Tali ini memiliki sifat-sifat :
- Tidak tahan terhadap gesekan dengan tebing, terutama tebing laut (cliff). Bila dipakai untuk menurunkan barang, sebaiknya bagian tebing yang bergesekan dengan tali diberi alas (pading). Tabu untuk menginjak tali jenis ini.
- Peka (tidak tahan) dengan zat kimia.
- Tidak tahan terhadap panas. Bila tali telah dicuci sebaiknya dijemur di tempat teduh.
- Memiliki kelenturan yang baik bila mendapat beban kejut (karena pendaki jatuh, misalnya)

Pada umumnya tali-tali tersebut akan berkurang kekuatannya bila dibuat simpul. Sebagai contoh, simpul delapan (figure of eight) akan mengurangi kekuatan tali sampai 10%.

Karena sifat tali yang demikian, maka dibutuhkan perawatan dan perlakuan yang baik dan benar. Cara menggulung tali juga perlu diperhatikan agar tidak kusut, sehingga tidak mudah rusak dan mudah dibuka bila akan digunakan. Ada beberapa cara menggulung tali, antara lain :
- Mountaineers coil
- Skein coil
- Royal robin style

2. Webbing (tali pita) dan Sling
Seringkali kita menyebut webbing sebagai sling atau sebaliknya. Webbing memiliki bentuk seperti pita, dan ada dua macam. Pertama lebar 25 mm dan berbentuk tubular, sering digunakan untuk :
- Harness (tali tubuh), swami belt, chest harness, atau
- Alat bantu peralatan lain, sebagai runners (titik pengaman), tangga (etrier) atau untuk membawa peralatan.

Webbing yang lain memiliki lebar 50 mm dan berbentuk pipih, yang biasa digunakan untuk macam-macam body slings. Webbing yang sering disebut juga sebagai flat rope adalah produk sampingan perang dunia II.

3. Carabiners (snapring, snapling, cincin kait)
Secara prinsip, carabiner digunakan untuk menghubungkan tali dengan runners (titik pengaman), sehingga carabiner dibuat kuat untuk menahan bobot pendaki yang terjatuh.

Persyaratan yang harus dibuat oleh assosiasi pembuat peralatan panjat tebing mengharuskan carabiner dapat menahan bobot 1200 kilogram force (kp) atau sekitar 2700 pounds. Sedangkan beban maksimum yang diperbolehkan adalah sekitar 5000 pounds.

Carabiner yang terbuat dari campuran alumunium (Alloy) ini sangat ringan dan cukup kuat, terutama yang bebentuk D. Carabiner yang terbuat dari baja mempunyai kekuatan yang sangat tinggi sampai 10.000 pounds tetapi relatif berat bila dibawa dalam jumlah banyak untuk suatu pendakian.

Berikut ini adalah tabel daftar carabiners, pabrik pembuat dan kekuatan menahan bobot. Bagian yang paling lemah dari carabiner adalah pin, carabiner bentuk D relatif lebih aman dibanding bentuk oval, karena terdapat cekungan yang memberi ruang bagi pin saat carabiner mendapat beban. Kelebihan dari carabiner bentuk oval adalah relatif mudah dikaitkan pada piton.

Ada carabiner yang dilengkapi tutup pada pintunya (screw gate). Hal ini dimaksudkan agar carabiner tidak tebuka gatenya karena sesuatu hal. Tentunya carabiner ini lebih berat dibandingkan yang tanpa tutup (non screw gate).

4. Piton (peg, paku tebing)
Terbuat dari bahan metal dalam berbagai bentuk. Berfungsi sebagai pengaman, piton ini ditancapkan pada rekahan tebing. Sebagai kelengkapan untuk memasang atau melepas piton digunakan hammer.

Pada umumnya piton dapat digolongkan dalam 4 jenis, yaitu Bongs, Bugaboos, Knife-blades dan Angle. Piton jenis angle, knife-blades, dan bongs biasanya digunakan untuk rekahan horizontal maupun vertikal. Sedangkan yang bugaboos biasanya dibuat khusus untuk horizontal atau vertikal saja.

Cara pemasangan piton sangat sederhana. Setelah memeriksa rekahan yang akan dipasang piton, kita memilih piton yang cocok dengan rekahan, lalu ditancapkan dan pukul dengan hammer. Salah besar kalau kita memilih piton dulu baru memilih rekahan pada tebing. Untuk mengetahui rapuh tidaknya rekahan yang akan kita pasang piton, adalah dengan memukulkan hammer pada tebing sekitar rekahan. Suara yang nyaring menunjukkan rekahan tersebut tidak rapuh.

Adakalanya rekahan yang kita hadapi membutuhkan cara pemasangan yang berbeda dan atau perlu dimodifikasi dengan alat lain, sehingga perlu beberapa cara khusus dalam pemasangannya.
Cara melepas piton adalah dengan menggunakan hammer yang kita pukulkan pada mata piton searah dengan rekahan sampai pada akhirnya piton dapat ditarik.

5. Chock
Disamping piton, chock juga berfungsi sebagai alat pengaman (runners). Dibuat dalam beberapa jenis dan ukuran, dapat dibagi menjadi : sling chock, wired chock, dan rope chock. Diantaranya berbentuk hexentric dan foxhead
Chock dibuat dari alumunium alloy sehingga sangat ringan. Cara memasang chock adalah dengan menyangkutkan pada rekahan. Sangat disukai pemanjat yang berpengalaman, karena mudah menempatkannya pada rekahan dan tidak memerlukan tenaga serta waktu banyak seperti halnya memasang piton.

6. Ascendeur
Ascendeur digunakan sebagai alat bantu naik, merupakan perkembangan dari prusik, mudah mendorongnya ke atas tapi dapat menahan beban. Dalam menggunakan ascendeur sebaiknya menggunakan sling terlebih dahulu sebelum disangkutkan pada carabiner. Ascendeur terbagi menjadi 2 jenis yaitu :
a. Jumar
Merupakan alat bantu naik pertama, terbuat dari kerangka alumunium dan baja. Alat ini dapat dipakai untuk tali berdiameter 7 - 11 mm dan berkekuatan 1100 pounds. Jumar sendiri dapat dibagi menjadi 3 macam :
- Standard jumar
- Jumar
- Jumar CMI 5000 (ColoradoMountains Industries). Jenis ini mempunyai kekuatan sekitar 5000 pounds dan carabiner dapat langsung disangkutkan pada kerangkanya.
b. Clog
Alat naik mekanis yang lain, mempunyai prinsip kerja yang sama seperti jumar. Alat ini banyak digunakan di Inggris.

7. Descendeur
Alat ini digunakan turun tebing (abseiling, rapeling). Pada prinsipnya untuk menjaga agar pendaki tidak meluncur bebas. Keuntungan lainnya adalah tubuh tidak tergesek tali, sehingga tidak terasa panas.













Beberapa jenis descendeur :
a. Figure of eight
b. Brake bar
c. Bobbin (petzl descendeur)
- single rope
- double rope
d. Modifikasi carabiner . Carabiner yang kita susun sedemikian rupa sehingga berfungsi semacam brake bar.

8. Etrier (tangga)
Bila rute yang akan dilalui ternyata sulit, karena tipisnya pijakan dan pegangan, maka etrier ini sangat membantu untuk menambah ketinggian. Pada Atrificial Climbing, etrier menjadi sangat vital, sehingga tanpa alat ini seorang pendaki akan sulit sekali untuk menambah ketinggian.
















gambar 9. etrier
9. Harness
Harness sangat menolong untuk menahan tubuh, bila pendaki terjatuh, Juga akan mengurangi rasa sakit dibandingkan bila kita menggunakan tali langsung ke tubuh dengan simpul bowline on a coil.
Harness yang baik tidak akan mengganggu gerak tubuh dari pendaki. Akan tetapi sangat terasa gunanya bila pendaki dalam posisi istirahat.
Jenis - jenis harness :
a. Full body harness
Harness ini melilit di seluruh tubuh, relatif aman dan biasanya dilengkapi dengan sangkutan alat disekeliling pinggang. Sering dipakai di medan salju/es.
b. Seat harness
Harness ini lebih sering dipakai, mungkin karena tidak begitu mengganggu pendaki dalam bergerak. Seat harness dapat dibuat dari webbing (swami belt) dan diapersling atau dengan menggunakan figure of eight sling.

10. Helm
Bagian tubuh yang paling lemah adalah kepala, sehingga perlu mengenakan helm untuk melindungi dari benturan tebing saat pendaki terjatuh atau bila ada batu yang berjatuhan. Meskipun helm agak mengganggu, tetapi kita akan terhindar dari kemungkinan terluka atau keadaan fatal.

11. Sepatu
Sepatu sangat berpengaruh pada suatu pendakian, ini pun tergantung pada medan yang akan dilalui. Untuk medan batu kapur yang licin dipakai sepatu yang bersol tipis dan rata. Sedangkan untuk medan sand stone (batu pasir) atau medan basah dipakai yang bersol tebal dan bergerigi. Sepatu panjat biasa dibuat tinggi, untuk melindungi mata kaki.

C. PENGETAHUAN TALI-TEMALI
Tati-temali merupakan pengetahuan dasar penting untuk seorang pendaki. Beberapa simpul yang perlu diketahui adalah:
1. Figure of eight knot (simpul delapan)
Paling sering dipakai, mudah dibuat serta melepaskanya setelah mendapat beban. Simpul ini dipakai untuk menyambung tali.









gambar 10.1 Figure of Eight Knot
2. Water knot (simpul pita)
Sering digunakan untuk menyambung webbing/sling/tali pita, meskipun dalam keadaan basah.




gambar 10.2 Water Knot
3. Bowline
Biasanya dipakai untuk anchor (titik tambat), karena sifatnya yang bila mendapat beban akan semakin mengikat. Bowline terdiri dari :
a. Basic bowline
b. Bowline on the bight






gambar 11. Basic Bowline dan Bowline on The Bight

4. Fisherman’s knot (simpul nelayan)
Simpul ini sangat baik untuk menyambung tali, baik tali dalam keadaan basah ataupun bila dua tali yang disambung berbeda ukuran. Yang biasa digunakan :
a. Single fisherman’s knot
b. Double fisherman’s knot

















gambar 11. Single Fisherman’s knot dan Double Fisherman’s knot
5. Sheet bend






gambar 12.1 Sheet band

6. Prusik






gambar 12.2 Prusik

7. Overhand Loop






gambar 12.3 Overhand Loop

D. PRAKTIK PANJAT TEBING
1. Bergerak
Bergerak pada tebing lebih menuntut perhatian kita dalam menggunakan kaki. Pijakan kaki yang mantap akan lebih memudahkan kita dalam bergerak dan untuk memperoleh keseimbangan tubuh. Seorang yang baru belajar panjat tebing biasanya akan memusatkan perhatian pada pegangan tangan. Hal ini justru akan mempercepat lelah dan kehilangan keseimbangan.

Tangan sebenarnya hanya membantu kaki dalam mencapai keseimbangan tersebut, kecuali untuk kasus-kasus tertentu, seperti melewati overhang, layback, dsb. Untuk itu, bagi pemula sebaiknya memusatkan perhatian untuk mencari pijakan (foot hold). Dan membisikkan pada dirinya sendiri “lihat ke bawah....!”.



Unsur terpenting dalam panjat tebing adalah keseimbangan; bilamana menempatkan tubuh, sehingga beban tubuh dapat terpusat pada titik-titik pijakan. Prinsip tiga point sangat baik untuk diterapkan. Yaitu hanya menggerakan satu anggota badan saja (kaki kiri/kanan dan tangan kiri/kanan), sementara tiga anggota badan lain tetap pada pijakan/pegangan.

Kesalahan lain yang biasa dibuat oleh seorang pemanjat pemula adalah menempelkan tubuhnya rapat ke tebing. Hal ini justru merusak keseimbangannya. Tubuh yang menempel pada tebing akan menyusahkan seorang pendaki dalam bergerak.

Dalam melakukan gerakan, tidak perlu mencari pegangan yang terlalu tinggi karena akan cepat menguras tenaga. Seperti halnya bila kita berjalan dengan langkah lebar tentu akan cepat lelah. Bergeraklah seperti ‘puteri solo’, melakukan langkah kecil, tenang tapi pasti.

Hal lain yang mendukung dalam setiap jenis olahraga adalah semangat. Dengan berlatih serius tentu kita akan dapat bergerak dengan anggun. Ada perkataan seperti ini, “The best training for rock-climbing is rock-climbing”, ya berlatih panjat tebing sebaiknya ditebing, melakukan panjat tebing itu sendiri.

Sekali lagi, cobalah untuk mengingatkan diri sendiri dengan membisikkan kata-kata, “lihat ke bawah....”.

2. Menggunakan Kaki
Dalam setiap gerakan, pengerahan energi harus diperhitungkan, sehingga pada saat dibutuhkan, energi tersebut dapat dikerahkan secara penuh. Konservasi energi dengan koordinasi antara otak dengan tubuh adalah keseimbangan antara apa yang terpikir dan apa yang mampu dilakukan tubuh kita.

Posisi telapak kita jelas akan menentukan ketepatan titik beban pada kaki. Menempelkan lutut pada tebing justru akan merusak keseimbangan. Usahakan untuk merencanakan penempatan kaki dahulu sebelum mencari pegangan tangan. Gambar di bawah menunjukkan beberapa penempatan kaki.

3. Menggunakan Tangan
Setelah menempatkan posisi kaki dengan benar, tangan akan membantu dalam mencapai keseimbangan tubuh seseorang pendaki dengan memanfaatkan rekahan atau tonjolan batu. Rekahan tersebut bisa berupa rekahan kecil dan besar yang cukup untuk seluruh badan. Tonjolan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga macam, tonjolan tajam (incut), tonjolan datar (flat), dan tonjolan bulat (rounded/sloping).





Berdasarkan retakan dan tonjolan tebing, maka pegangan dapat dibagi menjadi beberapa macam:
a. Pegangan biasa
Untuk tonjolan yang cukup besar (incut dan flat), seluruh tangan dapat digunakan, tapi ada kalanya sangat kecil sehingga hanya jari yang dapat digunakan.















gambar 13. Flat Hold, Pressure push hold

b. Pegangan Tekan (pressure push hold)
Pegangan ini diperoleh dengan cara mendorong tangan pada bidang batu yang cukup luas.
c. Pegangan Jepit
Jenis ini dipakai untuk tonjolan bulat (rounded atau slopping). Kalau tonjolan ini cukup besar bisa seluruh tangan digunakan, tetapi bila kecil hanya jari saja yang digunakan.
d. Jamming
Pegangan ini dilakukan secara khusus, yaitu dengan cara menyelipkan tangan sehingga menempel dengan erat. Sesuai besar kecilnya celah batu jamming dibagi atas beberapa macam:
- jamming dengan jari atau tangan (finger and hand jamming)
- jamming dengan kepalan atau lengan (fist and arm jamming)








gambar 14. Jamming

4. Gerakan Khusus Dalam Panjat Tebing
Dalam bergerak, sering dijumpai kondisi medan yang sulit dilewati dengan hanya mengandalkan teknik pegangan biasa. Untuk itu, ada beberapa gerakan khusus yang penting diketahui.
a. Layback
Diantara dua tebing yang berhadapan dan membentuk sudut tegak lurus, sering dijumpai suatu retakan yang memanjang dari bawah ke atas. Gerakan ke atas untuk kondisi tebing seperti itu dengan mendorong kaki pada tebing di hadapan kita dan menggeser-geserkan tangan pada retakan tersebut ke atas secara bergantian pada saat yang sama. Gerakan ini sangat memerlukan pengerahan tenaga yang besar, karenanya gerakan harus dilakukan secara tepat sebelum tenaga kedua tangan habis.
b. Chimney
Bila kita menemukan dua tebing berhadapan yang membentuk suatu celah yang cukup besar untuk memasukkan tubuh, cara yang dilakukan adalah dengan chimney yaitu dengan menyandarkan tubuh pada tebing yang satu dan menekan atau mendorong kaki dan tangan pada dinding yang lain. Tindakan selanjutnya adalah dengan menggeser-geserkan tangan, kaki dan tubuh sehingga gerakan ke atas dapat dilakukan. Berdasarkan lebar celah batu yang kita hadapi, maka chimney dapat dibagi atas:
- Wriggling
Wriggling dilakukan pada celah yang tidak terlalu luas sehingga cukup untuk tubuh saja.
- Backing Up
Backing Up dilakukan pada celah yang cukup luas, sehingga badan dapat menyusup dan bergerak lebih bebas.
- Bridging
Bridging dilakukan pada celah yang sangat lebar sehingga hanya dapat dicapai apabila merentangkan kaki dan tangan selebar-lebarnya.
c. Mantelshelf
Dilakukan bila menghadapi suatu tonjolan datar atau flat yang luas sehingga dapat menjadi tempat untuk berdiri. Caranya yaitu dengan menarik tubuh dengan kekuatan tangan dan tolakan kaki sehingga dapat melalui tonjolan tadi. Salah satu kaki kemudian menginjak dataran batu tersebut sejajar dengan tangan, disusul dengan kaki yang lainnya.
d. Cheval
Cara ini dilakukan pada batu yang biasa disebut arete yaitu bagian punggung tebing batu dengan bidang yang sangat tipis dan kecil.Pendaki yang menggunakan cara ini mula-mula duduk seperti menungang kuda pada arete, lalu dengan kedua tangan menekan bidang batu dibawahnya, ia mengangkat atau memindahkan tubuhnya ke atas.
e. Traversing
Adalah gerakan menyamping atau horisontal dari suatu tempat ke tempat lain. Gerakan ini dilakukan untuk mencari bidang batu yang baik untuk dipanjat, untuk mencari rute yang memungkinkan menuju ke atas. Karena gerakan ini horisontal, biasanya lebih banyak digunakan tangan dari pada kaki (hand traveserse).




















gambar 15. Traversing

f. Slab Climbing / Friction Climbing
Dilakukan pada tebing yang licin dan tanpa celah atau rekahan serta kondisi tidak terlalu curam.

5. Leading and Runners
a. Leading (memimpin pendakian)
Umumnya dalam setiap pendakian, harus ada seorang yang menjadi pendaki pertama (leader), biasanya dipilih seorang yang berpengalaman. Untuk menjadi leader dibutuhkan pengetahuan yang cukup tentang panjat tebing. Ketenangan dalam menyelesaikan rute-rute sulit, menempatkan piton-piton dan chock dengan tepat, keyakinan untuk bergerak ke atas dengan mulus serta dengan keyakinan pula menempatkan diri pada posisi istirahat. Bila rute tersebut masih asri / belum terjamah sebelumnya, maka menciptakan rute baru menurut seorang pendaki terkenal merupakan karya seni yang luar biasa. Untuk mengamankan dirinya dari kemungkinan jatuh, seorang leader akan menempatkan suatu rangkaian jalur pengaman pada tempat-tempat yang tepat. Jalur pengaman (runners) yang dibuat selurus mungkin, ini dimaksudkan untuk mengurangi gesekan antara karabiner dengan tali pengaman. Hal ini untuk mencegah copotnya runners.
b. Runners
Runners adalah tempat tumpuan tali pengaman yang dipasang oleh pendaki pertama untuk memperkecil jarak jatuh yang mungkin timbul. Semakin banyak runners yang dipakai, makin terjaga pula pengamanan untuk si pendaki. Akan tetapi banyak juga para pendaki yang beranggapan bahwa pemakainan runners harus sesedikit mungkin, untuk menjaga kelestarian tebing bersangkutan. Runners umumnya dipakai untuk proteksi pendaki pertama, akan tetapi untuk kasus-kasus tertentu bisa juga dipakai untuk proteksi pendaki kedua. Sesuai perkembangan peralatan panjat tebing, runners dapat dibentuk dari banyak alat. Akan tetapi pada prinsipnya runners dapat dibentuk dengan piton, sling, dan chock.

6. Belaying dan Anchor
a. Belaying
Merupakan hal yang penting dalam suatu rangkaian panjat tebing (claimbing chain). Belayer yang baik harus terlatih sehingga dapat menyelamatkan leader, bila leader terjatuh. Untuk itu dibutuhkan latihan, disamping memahami cara-cara yang tepat. Komunikasi antara belayer dengan leader harus jelas dan dimengerti oleh kedua belah pihak. Karena adakalanya leader minta belayer untuk mengendorkan tali (slack) ataupun mengencangkan tali (tension). Cara penempatan anchor untuk belayer dan teknik belay yang baik dapat dilihat pada gambar di bawah.
b. Anchor
Anchor (jangkar) adalah suatu titik keamanan awal dimana yang kita buat disangkutkan di sana. Anchor berguna untuk mengikatkan tali yang telah bersimpul tersebut dan dipakai untuk rappeling (turun), naik (memakai alat) atau untuk mengikatkan seseorang bila ia menjadi seorang belayer. Ada anchor alamiah yang relatif kuat dan ada pula anchor buatan dengan bantuan piton, bolt, chock, sling, dan etrier. Anchor buatan umumnya dipakai bila sama sekali tidak ada anchor alamiah misalnya pada suatu pitch di tengah-tengah tebing.












gambar 16. Membuat Anchor Bolt

c. Belaying dan penggunaan Runners
Ada beberapa pendaki yang senang melakukan panjat tebing seorang diri, tetapi kebanyakan kegiatan ini dilakukan oleh satu kelompok yang terdiri dari beberapa pendaki. Dalam ‘free climbing’ beberapa alat pendakian juga digunakan, meskipun pemakaian terbatas untuk proteksi saja. Tali misalnya, bukan untuk memanjat atau pegangan, tapi untuk tali pengaman (safety rope) yang menghubungkan pendaki dengan pendaki lain yang menjadi belayer.
Demikian halnya alat-alat lain seperti karabiner, piton, chock atau sling yang semuanya digunakan untuk proteksi. Pendakian oleh satu kelompok dipandang sebagai suatu hal yang menjamin keamanan para pendaki. Pendaki pertama diikat dengan tali pengaman yang dihubungkan dengan pendaki kedua yang melakukan belaying. Untuk menghindarkan akibat jatuh yang fatal, maka jarak jatuh si pendaki dengan belayer harus dipersempit. Caranya yaitu dengan menempatkan runners (running belay) pada jarak-jarak di tebing batu. Dengan menempatkan runners sebanyak mungkin, diharapkan faktor kejatuhan (fall factor) dapat diperkecil.
Bila pendaki pertama berhasil mencapai tempat berpijak yang aman, maka sekarang ia membantu mengamankan pendaki kedua dengan memberikan belaying (upper belay). Jarak antara tempat pendaki pertama berpijak dengan pendaki kedua yang menjadi belayer (low belaying) secara teknis disebut “pitch”. Jadi banyak pitch pada satu tebing tergantung frekuensi belaying yang dilakukan.

7. Abseiling (Rapeling)
Setelah mencapai puncak tebing, persoalan berikutnya adalah bagaimana turun kembali. Pada saat turun, pandangan pendaki tidak seluas atau sebebas ketika mendaki. Inilah sebabnya mengapa turun lebih sulit dari pada mendaki. Karenanya alat sangat diperlukan pada saat turun tebing (abseiling/rapeling). Cara turun dengan menggunakan tali melalui gerakan atau sistem friksi sehingga laju luncur pendaki dapat terkontrol.
Berdasarkan pemakaian alat maka abseiling dapat dibagi atas : teknik tanpa karabiner (classic method) dan teknik dengan karabiner (crab method).
















gambar 17. Abseiling
a. Teknik Dulfer
Cara klasik dalam turun tebing. Hanya menggunakan tali luncur (abseiling rope) yang diletakkan diantara dua kaki lalu menyilang dada dan melalui bahu. Laju turun ditahan dengan satu tangan.
b. Teknik Modified Dulfer
Teknik semi klasik. Menggunakan karabiner tersebut tali luncur menyilang ke salah satu bahu lalu dipegang oleh satu tangan untuk kontrol.

c. Teknik Komando
Di Indonesia, cara ini sering dipakai oleh para komando. Caranya dengan melilitkan karabiner dengan tali sebanyak dua kali, dan dengan melewati antara kaki maka laju badan dikontrol dengan gerakan tali luncur tersebut pada salah satu tangan. Adakalanya tali luncur tersebut tidak melalui dua kaki tetapi hanya satu paha, lalu gerakan friksinya diatur oleh tangan yang sejajar dengan paha tersebut.
d. Teknik Brake Bar
Empat buah karabiner disusun melintang sedemikian rupa sehingga merupakan sistem friksi (lihat kembali: descendeur), lalu tali luncur melewatinya dengan dikontrol oleh satu tangan pendaki. Sistem friksi kemudian dikembangkan dengan sistem descendeur khusus yang disebut bar crab.
Abseiling dengan penggunaan karabiner atau tanpa karabiner dilakukan pada tebing batu yang tidak terlalu tinggi. Bila kita berhadapan dengan satu tebing yang panjang atau tinggi, maka cara ini tidak dianjurkan.Untuk kasus seperti itu dapat menggunakan descendeur, seperti figure of eight, bobbin atau brake bar.
Karena abseiling sangat tergantung pada alat yang dipakai maka persiapan penggunaanya harus betul-betul diperhatikan. Pastikan bahwa ikatan pada anchor benar-benar kuat. Periksa kembali apakah ujung tali telah disimpul. Sebaiknya selain abseile rope persiapkan juga safety rope yang diamankan oleh pendaki kedua.
Dengan memasang karabiner untuk meluncur, mutlak diperhatikan arah pintu (gate) karabiner tersebut. Ingat prinsip friksinya jangan sampai terbalik tetap gate karabiner. Kalau perlu screw gate karabiner.Tangan yang mengontrol laju tidak boleh dilepas, karena luncuran yang tidak terkontrol dapat berakibat fatal.
Jangan memaksa untuk melakukan lompatan pada abseiling, kecuali pada tebing yang menggantung (overhang). Turunlah perlahan-lahan, lompatan akan memberi tekanan pada tali sehingga kemungkinan tali lepas atau aus lebih besar. Lagi pula, lompatan sering membuat pendaki lepas kontrol dan mendarat kurang tepat.

8. Urutan Suatu Pendakian
a. Memilih rute
Pada umumnya dipilih berdasarkan data-data yang sudah ada, misalnya dari buku-buku panduan atau dari para pendaki yang pernah melewatinya.
b. Mempersiapkan peralatan
Persiapkan peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan rute yang dipilih.
c. Menentukan leader
Leader dipilih oleh mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Apabila dalam regu tersebut kemampuannya sama, leader dapat bergantian.
d. Mempersiapkan pendakian
- Buat anchor pada posisi yang tepat.
- Leader mempersiapkan diri, yaitu seluruh peralatan pendakian yang ditempatkan pada gantungan yang tersedia atau pada sekeliling harness.
- Belayer mempersiapkan diri, yaitu dengan mengikatkan diri pada anchor.
- Aba-aba. Apabila leader telah siap, dia akan berkata “ belay on” dan disahuti oleh belayer dengan “on belay”.
e. Memulai pendakian
- Leader naik menuju pitch (belayer harus seksama memperhatikan seluruh gerakan yang dilakukan oleh leader, cara memasang chock, melewati overhang/tebing atap/tebing yang menggantung istirahat, memasang sling, dsb.
- Leader menyangkutkan tali pengaman pada runner yang dibuatnya.
- Berikutnya kadang-kadang leader melakukan gerakan khusus atau menggunakan tangga untuk dapat terus naik.
- Bila leader jatuh akan tertolong oleh belayer bila runner telah terpasang kuat.
- Setelah cukup tinggi sekitar 40 meter lebih, leader akan mencari tempat yang cukup aman untuk memasang anchor.
- Adakala sebelum setinggi itu terdapat teras lebih baik anchor dipasang di sini. Bila leader merasa cukup aman terikat pada anchor yang dibuat dia akan berkata “belay off”
- Leader telah menyelesaikan pitch I












gambar 18. urutan pendakian
f. Belayer mempersiapkan diri untuk menyusul leader ke pitch I
- Langkah pertama ia akan membuat anchor
- Ujung tali yang dipakai untuk mem-belay disangkutkan pada tubuhnya
- Belayer melakukan cleaning up (membersihkan runner yang dibuat oleh leader). Biasanya ia dilengkapi oleh hammer yang berguna untuk mencopot piton.
- Belayer sebagai pendaki kedua sampai di pitch I
g. Meneruskan ke pitch I
- Bila ada pendaki ketiga, leader akan memasang fixed rope (tali tetap) untuk pendaki ketiga yang naik menggunakan ascendeur.
- Bila hanya berdua, akan dimulai proses pendakian seperti sebelumnya.





9. Artificial Climbing
Pada suatu keadaan tertentu dimana tebing tidak ada hold (tonjolan batu) tetapi hanya ada rekahan kecil yang tidak dapat digunakan untuk pijakan dan pegangan, maka pendakian akan menggunakan alat berupa piton, friend, chock serta etrier dalam menambah ketinggian.
Dalam hal ini etrier menjadi alat yang sangat vital sebagai pijakan. Dengan cara menempatkan etrier pada chock/friend/piton yang terpasang pada rekahan. Pendaki memasang lebih ke atas lagi chock/friend/piton, kemudian etrier dipindahkan pada chock/friend/piton yang terpasang tersebut. Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga pendaki mencapai ketinggian yang diinginkan.
Demikianlah ringkasan suatu pendakian pada umumnya. Akhirnya makalah ini kami cukupkan sampai di sini. Untuk lebih jelas sebaiknya kita berlatih di lapangan/tebing.
















gambar 19. aid climbing

Read more...

Selasa, 07 April 2009

DIKTAT GAPURA


ZOOLOGI PRAKTIS


. PENDAHULUAN


Sebagai seorang Himpala, mengetahui serta mempelajari zoologi praktis adalah sangat penting, apalagi saat keadaan Survival. Pengetahuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan makanan darurat (Survival Food). Bagian ini erat kaitannya dengan materi survival.

Hutan yang ada di Indonesia umumnya berupa hutan hujan tropis. Karakteristik dari hutan hujan tropis ini terutama di dataran rendahnya adalah :

a. Suhu rata-rata tinggi, tidak berfluktuasi banyak.

b. Keanekaragaman organisasi yang tinggi, baik hewan maupun tumbuhannya.

c. Banyak pohon tinggi dengan akar Barien (akar papan), dengan tumbuhan epifit dan

leiana.

Perlu diketahui, bahwa binatang sangat berbeda sekali cara hidupnya dibanding dengan tumbuhan. Cara/ pola hidup dari binatang adalah selalu dinamis (bergerak), dan selain itu pula, binatang juga biasanya mempunyai sifat pemalu dan penakut, sehingga sukar dan jarang ditemui di hutan-hutan.

Untuk mengatasi hal tersebut diatas, kita tidak cukup hanya mempelajari dari pengenalan bentuk dan morfologinya, tetapi juga perlu mengenal habitat (tempat tinggal), sifat-sifat hidupnya dan makanannya.

Dalam keadaan survival, yaitu dalam keadaan terpaksa, masalah yang terpenting adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan sumber alam yang ada di hutan untuk dimakan, serta menghindari segala sesuatu yang dapat membahayakan / mengancam diri kita. Untuk itu diperlukan pengenalan terhadap organisma-organisma di huatan, baik tumbuhan maupun binatang nya, yang dapat dimanfaatkan jika berguna dan atau dihindari jika berbahaya.

Umumnya binatang-binatang yang ada di hutan dapat dimakan, akan tetapi ada juga yang tidak dapat dimakan karena beracun atau berbisa. Yang berbisa pun dapat kita makan asalkan kita mengetahui letak dan atau bagian-bagian yang berbisa, sehingga kita dapat menghilangkannya. Demikian pula halnya dengan binatang yang hidup di air (sungai, rawa, dan laut).

Penting diketahui bagi seorang Himpala, jangan terlalu mengharapkan mendapatkan makanan yang cukup dan berkualitas dari hutan. Dianjurkan, jika kita melakukan eksplorasi ke hutan maka kita harus menyediakan makanan yang cukup atau setidak-tidaknya makanan pokok. Kalau mengharapkan makanan dari hutan paling banyak hanya makanan tambahan atau pelengkap saja.

II. BINATANG YANG DAPAT DIMAKAN.

Disini kita akan membagi binatang yang dapat dimakan menjadi 8 jenis binatang, yaitu : Bangsa Belalang, jangkrik dan kasiu; cacing; udang; mamalia; bangsa burung; binatang melata; amphibia dan bangsa ikan.

BELALANG


Belalang daun (Tettigonidae), sering dijumpai di semak-semak, tidak terlalu sulit ditangkap. Baik stadium muda atau dewasa, dikonsumsi dengan cara dibakar lalu dimakan.

Di daerah sumatra barat dan di Aceh, ada jenis belalang yang cukup disukai dan merupakan sumber protein yang cukup baik. Pengolahannya dengan cara dibakar yang selanjutnya dapat dikomsumsikan untuk berbagai jenis makanan.

Jangkerik (Guyllusbimaculatus); Kasir (Brachitrupes portentosus) dapat pula dimakan dengan membakarnya terlebih dahulu.

Cacing

Jenis cacing yang jelas dapat dimakan adalah cacing ‘Sondari’. Cacing ini ukurannya besar, gerakannya lambat dan hidup di paku sarang burung (Asplenium nidus), yang menempel pada batang pohon. Saat setelah hujan, cacing ini biasanya jatuh ke tanah. Adapun cara mengkomsumsikannya adalah : Hilangkan isi perutnya, selanjutnya terserah !

Di hutan tropis Irian Jaya cacing ini hidupnya di dalam pohon-pohon yang telah lapuk, dan merupakan makanan ‘kebesaran’ untuk penerimaan tamu atau dalam upacara- upacara adat, karena rasanya yang sangat lezat.

Udang

Binatang ini umumnya terdapat di daerah yang mengandung air, seperti : sungai, rawa dan laut. Untuk di sungai-sungai biasanya nongkong di bawah batu-batu. Cara menangkapnya, balikkan batu tersebut dan jika udang tersebut terlihat, dengan gerakan yang cepat tangkap dan kena . Untuk udang-udang yang hidup dilaut, biasanya terlihat jelas dipantai yang berpasir dan jernih, begitu juga untuk yang hidup dirawa-rawa.

Mamalia

Umumnya binatang yang menyusui ini dapat dimakan, terutama dagingnya. Hanya ada beberapa janis dari mamalia ini yang kelenjarnya bau, yang berfungsi untuk mempertahankan hidup dari musuh-musuhnya. Mamalia tersebut misalnya :

- Tikus busuk atau cecurut (Suneus murinus), yang letak kelenjar baunya ada di mulut.

- Sigung/ Teledu (Javanensis), yang letak kelenjarnya ada pada bagian ekor.

Dengan demikian, maka untuk mamalia yang mempunyai ‘kerumitan’ ini jarang sekali orang mau memakannya.

Bangsa Burung (Aves)

Pada umumnya daging dan telornya dapat dimakan. Ada beberapa burung yang makanannya dari buah-buahan dan biji-bijian yang beracun sehingga besar kemungkinan, jika ada bagian tertentu dari tubuhnya dimakan maka dapat mengakibatkan mabok, misalnya dari jenis :

- Jenis burung Kuau (Poliperton sp)

- Jenis burung Kua-kua Cermin (Arbusianus sp)

- Jenis burugn Rangkong (Buceros), Enggang (Aceros) dan lain-lain

Binatang Melata (Reptilia)

Penyu Laut

Dari sekian banyak jenis penyu laut ini, hanya jenis Chelonia mydas saja yang paling banyak digemari orang, termasuk telornya. Yang lainnya pun masih dapat dimakan termasuk penyu raksasa, penyu Blimbingan dan lain-lainnya.

Penyu Darat

Binatang ini dapat dimakan, tapi sebelumnyanya buanglah dulu ususnya, karena kemungkinan penyu ini telah memakan daging beracun.

Golongan Ular

Sebelum memakannya, buanglah terlebih dahulu kepalanya (secara umum), tetapi untuk beberapa jenis ular, seperti ular cabe, hanya 1/3 dari bagian tubuhnya yang dapat dimakan, karena kemungkinan adanya racun (bisa).

Golongan Cecak

Jenis Buaya dan biawak dapat dimakan, termasuk telornya, juga untuk cecak dan tokek dapat pula dimakan dagingnya.

Amphibi (Amphibia)

Secara umum, bangsa katak dapat dimakan dagingnya, terutama katak Hijau. Tetapi ada beberapa jenis katak (misalnya katak Bangkok), pada bagian kulitnya terdapat kelenjar racun (bintik-bintik), maka hilangkan dulu kulitnya sebelum dikonsumsikan.

Bangsa Ikan (Pisces)

Semua daging ikan dan telornya dapat dimakan. Ada beberapa ikan yang tidak dapat dimakan, karena beracun, tetapi jika tau letak racunnya dapat saja dimakan.

Ikan Yang Beracun

Dapat dilihat pada bab III di depan.

Ikan Yang Dapat Dimakan

- Bangsa Kepiting, usang, ketam kenari dan ketam kepala.

- Jenis Moluska (binatang bertubuh lunak), tapi jika terlalu banyak dapat memabukkan.

- Jenis Echinodermata (binatang berkulit duri), yang dapat dimakan hanya isinya saja,

khusus untuk Tripang, kulitnya dapat dimakan dengan jalan dikeringkan dahulu.

III. BINATANG BERBISA ATAU BERACUN

Ular

Ular secara umum dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu : ular berbisa dan ular tidak berbisa. Berdasarkan pembagian ini, maka kita dapat pula menspesifikasikan bagian itu.

Ular Berbisa

Dilihat dari bentuk dan morfologinya, ular berbisa dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu : bertaring dimuka (berbisa kuat) dan bertaring dibelakang (berbisa relatif lemah). Contoh ular berbisa tersebut adalah :

- Ular Cobra/ ular sendok (Nayakarna)

- Ular Hijau/ Bungkalaut

- Ular Belang/ Welang (Bungarus Pasciatus)

- Ular Cabe/ Ular Cabe Merah (Matikora-intestinalis)

- Ular Tanah/ Belandotan (Jawa)/ Gibug (Sunda)

Selain ular-ular ini, di Indonesia masih banyak terdapat beberapa jenis lagi ular yang berbisa, tetapi jumlahnya hanya sedikit. Letak bisa ular-ular ini terletak di bagian kepalanya (kelenjar bisa), kecuali ular Cabe yang sepertiga (1/3) badannya (dari kepala) mengandung kelenjar bisa.

Ular Tidak Berbisa

Ular yang tidak berbisa sam asekali tidak bertaring. Untuk ular jenis ini di Indonesia, yaitu :

- Ular Sanca (Piton Nolurus), dan (Piton Reticulatus)

- Ular Tikus (Elaphe Radiata)

- Ular Ekor Hitam (Elaphe Flavolincauta)

- Ular Picung (Natrix Sabuniata)

- Ular Tampar (Ahaietulla Pictta)

- Ular Air (Natrix Trianggulera)

- Ular Pelangi (Xenophelis Unicolor)

Ular adalah binatang berdarah dingin, oleh karena itu daerah hidup ular secara umum lebih menyukai hidup di daerah yang panas, tetapi cukup basah. Karenanya populasi terbanyak dari ular adalah di daerah semak-semak belukar, daerah rawa-rawa, daerah aliran sungai, persawahan ataupun di daerah pantai dan di dataran rendah. Hal-hal lain yang tidak lepas pula pengaruhnya adalah daerah hidup dari mangsa-mangsanya (binatang santapan) ular itu sendiri).

Kura-Kura Darat

Binatang ini dapat dimakan, tetapi untuk masa-masa tertentu kemungkinan akan beracun (setelah makan jamur beracun misalnya) yang dapat mengakibatkan mabok atau lebih parah lagi menimbulkan kematian.

Arachoidea dan Miriapoda

Jenisnya antara lain : kalajengking, ketonggeng, kaki seribu, kelabang, dan lain-lain. Letak bisanya ada pada bagian ekornya, misalnya kalajengking dan ketonggeng. Tetapi untuk jenis kaki seribu, bisanya terletak pada bagian kepala. Jadi setelah dihilangkan bisanya, lalu dibakar di atas api, maka dapat dimakan.

Jenis Insekta

Terdiri dari : Tawon, Lebah, Pepanti, dan lain-lain. Binatang-binatang ini menyengat dengan ekornya (pantatnya). Untuk emmakannya secara umum adalah kita tidak mengambil yang tua, tetapi masih berbentuk larva (ulat), lalu dimakan setelah dimasak terlebih dahulu.

Binatang Air Yang Beracun

- Jenis Penyu Laut

Ada juga yang beracun yaitu Penyu Wau Amis (Eretmochelys-Imbricata) dan penyu Pasiran (Lepidochelys Clivacoa), yang jika kita makan dapat menyebabkan mabok.

- Mimi (Arachoidea yang dilaut)

Bagi nelayan dapat dimakan, karena mereka mengetaui masa perkelaminannya. Di ujung ekornya terdapat alat penyengat yang berbisa.

- Jenis Ikan Cucut

Dagingnya dapat dimakan, tetapi hanya hatinya terlalu banyak mengandung vitamin A sehingga dapat menyebabkan mabok. Jenisnya antara lain : Carcharias Glaucus, Galeus Canis, dan lain-lain.

Hanya para nelayan yang tahu masa perkelaminannya (masa beracunnya), antara lain : Siluruh Baginus, Silurus Militaris, Schizotrax intermedius, Abramia Brama, Lebias Calarimata, Clupea venemasa, Tinca vulgaris, Tetraodon Hispidus (ikan buntal), dan lain-lain.

Kemungkinan beracun, antara lain : Serranus Rupestris, Serranus Chatabuli, dan lain-lain.

IV. TEKNIK DAN CARA PENANGKAPAN

Penangkapan Ular

Penangkapan Ular Dengan Alat

Ular dapat ditangkap dengan cara menekan kepalanya dengan suatu alat, contohnya kayu, penjerat dan lain-lain. Dengan cara penangkapan ini, ular dapat ditangkap dengan hasil mati atau hidup, hal ini tergantung pada ketukannya. Apabila dengan cara dibunuh, maka banyak ragam caranya, hanya perlu diperhatikan masalah segi-segi keamanan bagi kita ketika proses penangkapan berlangsung.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

· Hati-hati terhadap beberapa jenis ular, apabila berada dalam posisi menggulungkan diri, karena dalam posisi seperti ini berarti siap untuk menyerang.

· Hari-hari terhadap semburan ular kobra, bagian yang vitalnya (mematikan) adalah kepala.

· Jangan ragu-ragu serta mempunyai perasaan yang tidak-tidak yang dapat membahayakan diri sendiri.

· Gerakan kita harus cepat dan tepat.

· Jangan menangkap ular yang besar di dalam air.

Menangkap Ular Dengan Tangan Terbuka

Gunakan alat pelindung tangan, seperti : jaket, baju tebal, topi dan lain-lainnya. Lalu ganggu ular tersebut dengan tangan yang terlindung sehingga dia marah dan menyerang bagian tersebut. Pada posisi menyerang atau pun ular itu menggigit benda pelindung tersebut, tangkaplah ular itu tepat dan jangan ragu-ragu sedikitpun. Memegang ular yang hidup selalu di pegang bagian lehernya. Untuk ular yang besar, selain dipegang lehernya, juga bagian ekornya.

Pengolahan Ular Setelah Ditangkap

· Potong dan buang bagian kepalanya untuk jenis ular berbisa, terutama untuk jenis ular cabe buang 1/3 bagian badan ke arah kepala dan ke arah ekornya.

· Belah bagian bawah badan (perut) dan keluarkan bagian isi perutnya.

Di bagian kepala yang dipotong, kuliti sebagian kulitnya sehingga cukup untuk dipegang, lalu tarik bagian kulit dan badan ular itu berlawanan arah sampai terkelupas seluruhnya.

· Ular tersebut kini telah siap untuk diolah baik dibakar, digoreng maupun dikonsumsikan menjadi makanan yang siap untuk disajikan yang tak kalah lezatnya dibandingkan dengan daging biasa (ayam, sapi dan kambing).


Menangkap Buaya

Cara menangkap buaya dengan tidak menggunakan senjata api, pakailah pancingan dengan umpan daging yang sudah busuk agar tercium baunya, atau umpan dengan anak kera, anak anjing yang masih hidup (untuk terdengar rintihannya). Tali sedikit dipanjangkan tapi umpan tidak dimasukkan ke dalam air. Setelah diumpan, selami dibawahnya dan tikam bagian perutnya. Bila buaya ada di pantai, harus digiring terlebih dahulu ke daratan, jadi menggiringnya dari pantai ke darat.

Menangkap Biawak

Dengan cara dikejar lalu ditangkap. Tetapi karena biawak itu cepat larinya, dan masuk ke dalam air, maka ada satu cara yang tepat. Mengingat makanan dari biawak ini (daging atau sesuatu yang berbau darah), kita dapat mengambil sedikit darah apa saja lalu kita campur dengan batu kerikil, ditabur dimana biawak biasa berada. Karena ada makanan yang dapat dimakan, maka batu yang bercampur dengan darah itu akan dimakan hingga habis, sebegitu banyaknya batu kerikil yang dimakan, sehingga dia tidak bisa lari dengan cepat lagi. Selain itu biawak juga dapat juga dipancing seperti memancing buaya.

Menangkap Cecak, Kadal, Bunglon dan lain-lain

Penangkapan binatang ini tidak lah boleh dikejutkan, harus perlahan-lahan dari arah belakang.

Menangkap Burung

Menggunakan getah nangka atau getah lainnya yang dapat melekat. Lilitkan dengan sebatang kayu kecil, lalu letakkan dimana kebiasaan brung-burung itu hinggap. Selain cara itu, dapat pula dengan menggunakan jaring.

Menangkap Ikan

Menggunakan jaring, jala, pancing, dan lain-lain.

------------------------------

Selamat Berlatih !!!!!!

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP