DIKTAT GAPURA
ZOOLOGI PRAKTIS
. PENDAHULUAN
Sebagai seorang Himpala, mengetahui serta mempelajari zoologi praktis adalah sangat penting, apalagi saat keadaan Survival. Pengetahuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan makanan darurat (Survival Food). Bagian ini erat kaitannya dengan materi survival.
Hutan yang ada di
a. Suhu rata-rata tinggi, tidak berfluktuasi banyak.
b. Keanekaragaman organisasi yang tinggi, baik hewan maupun tumbuhannya.
c. Banyak pohon tinggi dengan akar Barien (akar papan), dengan tumbuhan epifit dan
leiana.
Perlu diketahui, bahwa binatang sangat berbeda sekali cara hidupnya dibanding dengan tumbuhan. Cara/ pola hidup dari binatang adalah selalu dinamis (bergerak), dan selain itu pula, binatang juga biasanya mempunyai sifat pemalu dan penakut, sehingga sukar dan jarang ditemui di hutan-hutan.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas, kita tidak cukup hanya mempelajari dari pengenalan bentuk dan morfologinya, tetapi juga perlu mengenal habitat (tempat tinggal), sifat-sifat hidupnya dan makanannya.
Dalam keadaan survival, yaitu dalam keadaan terpaksa, masalah yang terpenting adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan sumber alam yang ada di hutan untuk dimakan, serta menghindari segala sesuatu yang dapat membahayakan / mengancam diri kita. Untuk itu diperlukan pengenalan terhadap organisma-organisma di huatan, baik tumbuhan maupun binatang nya, yang dapat dimanfaatkan jika berguna dan atau dihindari jika berbahaya.
Umumnya binatang-binatang yang ada di hutan dapat dimakan, akan tetapi ada juga yang tidak dapat dimakan karena beracun atau berbisa. Yang berbisa pun dapat kita makan asalkan kita mengetahui letak dan atau bagian-bagian yang berbisa, sehingga kita dapat menghilangkannya. Demikian pula halnya dengan binatang yang hidup di air (sungai, rawa, dan laut).
Penting diketahui bagi seorang Himpala, jangan terlalu mengharapkan mendapatkan makanan yang cukup dan berkualitas dari hutan. Dianjurkan, jika kita melakukan eksplorasi ke hutan maka kita harus menyediakan makanan yang cukup atau setidak-tidaknya makanan pokok. Kalau mengharapkan makanan dari hutan paling banyak hanya makanan tambahan atau pelengkap saja.
Disini kita akan membagi binatang yang dapat dimakan menjadi 8 jenis binatang, yaitu : Bangsa Belalang, jangkrik dan kasiu; cacing; udang; mamalia; bangsa burung; binatang melata; amphibia dan bangsa ikan.
Belalang daun (Tettigonidae), sering dijumpai di semak-semak, tidak terlalu sulit ditangkap. Baik stadium muda atau dewasa, dikonsumsi dengan cara dibakar lalu dimakan.
Di daerah sumatra barat dan di Aceh, ada jenis belalang yang cukup disukai dan merupakan sumber protein yang cukup baik. Pengolahannya dengan cara dibakar yang selanjutnya dapat dikomsumsikan untuk berbagai jenis makanan.
Jangkerik (Guyllusbimaculatus); Kasir (Brachitrupes portentosus) dapat pula dimakan dengan membakarnya terlebih dahulu.
Jenis cacing yang jelas dapat dimakan adalah cacing ‘Sondari’. Cacing ini ukurannya besar, gerakannya lambat dan hidup di paku sarang burung (Asplenium nidus), yang menempel pada batang pohon. Saat setelah hujan, cacing ini biasanya jatuh ke tanah. Adapun cara mengkomsumsikannya adalah : Hilangkan isi perutnya, selanjutnya terserah !
Di hutan tropis Irian Jaya cacing ini hidupnya di dalam pohon-pohon yang telah lapuk, dan merupakan makanan ‘kebesaran’ untuk penerimaan tamu atau dalam upacara- upacara adat, karena rasanya yang sangat lezat.
Binatang ini umumnya terdapat di daerah yang mengandung air, seperti : sungai, rawa dan laut. Untuk di sungai-sungai biasanya nongkong di bawah batu-batu. Cara menangkapnya, balikkan batu tersebut dan jika udang tersebut terlihat, dengan gerakan yang cepat tangkap dan kena . Untuk udang-udang yang hidup dilaut, biasanya terlihat jelas dipantai yang berpasir dan jernih, begitu juga untuk yang hidup dirawa-rawa.
Umumnya binatang yang menyusui ini dapat dimakan, terutama dagingnya. Hanya ada beberapa janis dari mamalia ini yang kelenjarnya bau, yang berfungsi untuk mempertahankan hidup dari musuh-musuhnya. Mamalia tersebut misalnya :
- Tikus busuk atau cecurut (Suneus murinus), yang letak kelenjar baunya ada di mulut.
- Sigung/ Teledu (Javanensis), yang letak kelenjarnya ada pada bagian ekor.
Dengan demikian, maka untuk mamalia yang mempunyai ‘kerumitan’ ini jarang sekali orang mau memakannya.
Pada umumnya daging dan telornya dapat dimakan.
- Jenis burung Kuau (Poliperton sp)
- Jenis burung Kua-kua Cermin (Arbusianus sp)
- Jenis burugn Rangkong (Buceros), Enggang (Aceros) dan lain-lain
Penyu Laut
Dari sekian banyak jenis penyu laut ini, hanya jenis Chelonia mydas saja yang paling banyak digemari orang, termasuk telornya. Yang lainnya pun masih dapat dimakan termasuk penyu raksasa, penyu Blimbingan dan lain-lainnya.
Penyu Darat
Binatang ini dapat dimakan, tapi sebelumnyanya buanglah dulu ususnya, karena kemungkinan penyu ini telah memakan daging beracun.
Golongan Ular
Sebelum memakannya, buanglah terlebih dahulu kepalanya (secara umum), tetapi untuk beberapa jenis ular, seperti ular cabe, hanya 1/3 dari bagian tubuhnya yang dapat dimakan, karena kemungkinan adanya racun (bisa).
Golongan Cecak
Jenis Buaya dan biawak dapat dimakan, termasuk telornya, juga untuk cecak dan tokek dapat pula dimakan dagingnya.
Amphibi (Amphibia)
Secara umum, bangsa katak dapat dimakan dagingnya, terutama katak Hijau. Tetapi ada beberapa jenis katak (misalnya katak
Semua daging ikan dan telornya dapat dimakan.
Ikan Yang Beracun
Dapat dilihat pada bab III di depan.
Ikan Yang Dapat Dimakan
- Bangsa Kepiting, usang, ketam kenari dan ketam kepala.
- Jenis Moluska (binatang bertubuh lunak), tapi jika terlalu banyak dapat memabukkan.
- Jenis Echinodermata (binatang berkulit duri), yang dapat dimakan hanya isinya saja,
khusus untuk Tripang, kulitnya dapat dimakan dengan jalan dikeringkan dahulu.
III. BINATANG BERBISA ATAU BERACUN
Ular secara umum dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu : ular berbisa dan ular tidak berbisa. Berdasarkan pembagian ini, maka kita dapat pula menspesifikasikan bagian itu.
Ular Berbisa
Dilihat dari bentuk dan morfologinya, ular berbisa dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu : bertaring dimuka (berbisa kuat) dan bertaring dibelakang (berbisa relatif lemah). Contoh ular berbisa tersebut adalah :
- Ular Cobra/ ular sendok (Nayakarna)
- Ular Hijau/ Bungkalaut
- Ular Belang/ Welang (Bungarus Pasciatus)
- Ular Cabe/ Ular Cabe Merah (Matikora-intestinalis)
- Ular Tanah/ Belandotan (Jawa)/ Gibug (Sunda)
Selain ular-ular ini, di Indonesia masih banyak terdapat beberapa jenis lagi ular yang berbisa, tetapi jumlahnya hanya sedikit. Letak bisa ular-ular ini terletak di bagian kepalanya (kelenjar bisa), kecuali ular Cabe yang sepertiga (1/3) badannya (dari kepala) mengandung kelenjar bisa.
Ular Tidak Berbisa
Ular yang tidak berbisa sam asekali tidak bertaring. Untuk ular jenis ini di
- Ular Sanca (Piton Nolurus), dan (Piton Reticulatus)
- Ular Tikus (Elaphe Radiata)
- Ular Ekor Hitam (Elaphe Flavolincauta)
- Ular Picung (Natrix Sabuniata)
- Ular Tampar (Ahaietulla Pictta)
- Ular Air (Natrix Trianggulera)
- Ular Pelangi (Xenophelis Unicolor)
Ular adalah binatang berdarah dingin, oleh karena itu daerah hidup ular secara umum lebih menyukai hidup di daerah yang panas, tetapi cukup basah. Karenanya populasi terbanyak dari ular adalah di daerah semak-semak belukar, daerah rawa-rawa, daerah aliran sungai, persawahan ataupun di daerah pantai dan di dataran rendah. Hal-hal lain yang tidak lepas pula pengaruhnya adalah daerah hidup dari mangsa-mangsanya (binatang santapan) ular itu sendiri).
Binatang ini dapat dimakan, tetapi untuk masa-masa tertentu kemungkinan akan beracun (setelah makan jamur beracun misalnya) yang dapat mengakibatkan mabok atau lebih parah lagi menimbulkan kematian.
Jenisnya antara lain : kalajengking, ketonggeng, kaki seribu, kelabang, dan lain-lain. Letak bisanya ada pada bagian ekornya, misalnya kalajengking dan ketonggeng. Tetapi untuk jenis kaki seribu, bisanya terletak pada bagian kepala. Jadi setelah dihilangkan bisanya, lalu dibakar di atas api, maka dapat dimakan.
Terdiri dari : Tawon, Lebah, Pepanti, dan lain-lain. Binatang-binatang ini menyengat dengan ekornya (pantatnya). Untuk emmakannya secara umum adalah kita tidak mengambil yang tua, tetapi masih berbentuk larva (ulat), lalu dimakan setelah dimasak terlebih dahulu.
- Jenis Penyu Laut
- Mimi (Arachoidea yang dilaut)
Bagi nelayan dapat dimakan, karena mereka mengetaui masa perkelaminannya. Di ujung ekornya terdapat alat penyengat yang berbisa.
- Jenis Ikan Cucut
Dagingnya dapat dimakan, tetapi hanya hatinya terlalu banyak mengandung vitamin A sehingga dapat menyebabkan mabok. Jenisnya antara lain : Carcharias Glaucus, Galeus Canis, dan lain-lain.
Hanya para nelayan yang tahu masa perkelaminannya (masa beracunnya), antara lain : Siluruh Baginus, Silurus Militaris, Schizotrax intermedius, Abramia Brama, Lebias Calarimata, Clupea venemasa, Tinca vulgaris, Tetraodon Hispidus (ikan buntal), dan lain-lain.
Kemungkinan beracun, antara lain : Serranus Rupestris, Serranus Chatabuli, dan lain-lain.
IV. TEKNIK DAN CARA PENANGKAPAN
Penangkapan Ular
Penangkapan Ular Dengan Alat
Ular dapat ditangkap dengan cara menekan kepalanya dengan suatu alat, contohnya kayu, penjerat dan lain-lain. Dengan cara penangkapan ini, ular dapat ditangkap dengan hasil mati atau hidup, hal ini tergantung pada ketukannya. Apabila dengan cara dibunuh, maka banyak ragam caranya, hanya perlu diperhatikan masalah segi-segi keamanan bagi kita ketika proses penangkapan berlangsung.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
· Hati-hati terhadap beberapa jenis ular, apabila berada dalam posisi menggulungkan diri, karena dalam posisi seperti ini berarti siap untuk menyerang.
· Hari-hari terhadap semburan ular kobra, bagian yang vitalnya (mematikan) adalah kepala.
· Jangan ragu-ragu serta mempunyai perasaan yang tidak-tidak yang dapat membahayakan diri sendiri.
· Gerakan kita harus cepat dan tepat.
· Jangan menangkap ular yang besar di dalam air.
Menangkap Ular Dengan Tangan Terbuka
Gunakan alat pelindung tangan, seperti : jaket, baju tebal, topi dan lain-lainnya. Lalu ganggu ular tersebut dengan tangan yang terlindung sehingga dia marah dan menyerang bagian tersebut. Pada posisi menyerang atau pun ular itu menggigit benda pelindung tersebut, tangkaplah ular itu tepat dan jangan ragu-ragu sedikitpun. Memegang ular yang hidup selalu di pegang bagian lehernya. Untuk ular yang besar, selain dipegang lehernya, juga bagian ekornya.
· Potong dan buang bagian kepalanya untuk jenis ular berbisa, terutama untuk jenis ular cabe buang 1/3 bagian badan ke arah kepala dan ke arah ekornya.
· Belah bagian bawah badan (perut) dan keluarkan bagian isi perutnya.
Di bagian kepala yang dipotong, kuliti sebagian kulitnya sehingga cukup untuk dipegang, lalu tarik bagian kulit dan badan ular itu berlawanan arah sampai terkelupas seluruhnya.
· Ular tersebut kini telah siap untuk diolah baik dibakar, digoreng maupun dikonsumsikan menjadi makanan yang siap untuk disajikan yang tak kalah lezatnya dibandingkan dengan daging biasa (ayam, sapi dan kambing).
Menangkap Buaya
Cara menangkap buaya dengan tidak menggunakan senjata api, pakailah pancingan dengan umpan daging yang sudah busuk agar tercium baunya, atau umpan dengan anak kera, anak anjing yang masih hidup (untuk terdengar rintihannya). Tali sedikit dipanjangkan tapi umpan tidak dimasukkan ke dalam air. Setelah diumpan, selami dibawahnya dan tikam bagian perutnya. Bila buaya ada di pantai, harus digiring terlebih dahulu ke daratan, jadi menggiringnya dari pantai ke darat.
Dengan cara dikejar lalu ditangkap. Tetapi karena biawak itu cepat larinya, dan masuk ke dalam air, maka ada satu cara yang tepat. Mengingat makanan dari biawak ini (daging atau sesuatu yang berbau darah), kita dapat mengambil sedikit darah apa saja lalu kita campur dengan batu kerikil, ditabur dimana biawak biasa berada. Karena ada makanan yang dapat dimakan, maka batu yang bercampur dengan darah itu akan dimakan hingga habis, sebegitu banyaknya batu kerikil yang dimakan, sehingga dia tidak bisa lari dengan cepat lagi. Selain itu biawak juga dapat juga dipancing seperti memancing buaya.
Penangkapan binatang ini tidak lah boleh dikejutkan, harus perlahan-lahan dari arah belakang.
Menggunakan getah nangka atau getah lainnya yang dapat melekat. Lilitkan dengan sebatang kayu kecil, lalu letakkan dimana kebiasaan brung-burung itu hinggap. Selain cara itu, dapat pula dengan menggunakan jaring.
Menangkap Ikan
Menggunakan jaring, jala, pancing, dan lain-lain.
------------------------------
Selamat Berlatih !!!!!!






0 komentar:
Posting Komentar